Senin

Halaman Utama

Prospek Perfilman Indonesia pada 2009, Terancam Kembali ke Era 80-an


Pada 2009, dunia perfilman Indonesia diharapkan mengalami perbaikan. Perubahan tersebut, paling utama, yaitu pertumbuhan bioskop, perubahan pola pikir kebanyakan produser, dan dukungan pemerintah. Setidaknya, beberapa hal itu menjadi catatan penting dari Deddy Mizwar dan Hanung Bramantyo.

Secara kuantitas, produksi film Indonesia pada 2008 meningkat. Menurut Deddy, ada 81 judul yang tayang di bioskop. ”Tapi, ada indikasi set back ke era 1980-an,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Yang membuat aroma film era tahun 1980-an terasa kembali di 2008 adalah masih banyaknya genre horor dan komedi seks. ”Memang terjadi perubahan generasi, pelakunya berbeda, tapi temanya sama. Hanya, lebih baik secara teknis,” kritik ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) itu.

.........................................................................................................................................

Film Indonesia Jadi Bintang di Berlin

BERITA - berita-terkini.infogue.com - Film-film Indonesia kembali unjuk gigi di ajang festival film internasional. Tidak tanggung-tanggung, film Indonesia menjadi fokus utama sebuah festival film di Berlin.

Gelaran ini bertajuk Asian Hot Shots Film Festival Berlin 2009. Ini adalah acara tahunan yang mengkhususkan film dan video seni dari benua Asia. Tahun ini, festival digelar pada 13-18 Januari 2009 di sejumlah bioskop di Berlin.

Indonesia sebagai tema utama, menyumbang 11 film nasional akan diputar selama festival, bersama dengan film-film antara lain Jepang, Singapura, Korea, Pakistan dan China. Festival pun dibuka di Bioskop Babylon, Rosa Luxemburg Strasse, Berlin dengan pemutaran film Indonesia yaitu Cinta Setaman yang disutradarai Harry Dagoe Suharyadi.

“Masyarakat di Eropa begitu antusias menjadikan Indonesia sebagai fokus film festival. Kita harus merespons positif,” ujar Harry yang hadir dalam pembukaan acara kepada wartawan detikcom, Fitraya Ramadhanny, ...........................................................................................................................................................................

PERFILMAN INDONESIA

Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Nike Ardilla, Paramitha Rusady.

Pada tahun-tahun itu acara Festival Film Indonesia masih diadakan tiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada insan film Indonesia pada saat itu. Tetapi karena satu dan lain hal perfilman Indonesia semakin jeblok pada tahun 90-an yang membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa. Pada saat itu film Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri. Film-film dari Hollywood dan Hong Kong telah merebut posisi tersebut.

Baca Selengkapnya...


.........................................................................................................................................................................

25 film indonesia terbaik dan terlaris sepanjang masa

Caption: Tjoet Nja’ Dhien (1986) karya Eros Djarot dipilih sebagai film terbaik.
Bintang bertanya pada Kristanto yang mantan wartawan film di Kompas, apa film Indonesia terbaik yang pernah dibuat. “Film Indonesia terbaik sepanjang masa itu Lewat Djam Malam (1954),” jawabnya. Di matanya, film itu layak disebut terbaik dilihat dari alasan sinematografis maupun sosial. Ia bercerita film itu mengisahkan tentang korupsi di awal usai perang revolusi.
Dalam rangka ultah ke-15 tabloid ini membuat polling pada pengamat dan wartawan film untuk memilih film Indonesia terbaik sepanjang masa. Hasilnya, tak kurang ratusan judul masuk redaksi. Sebuah pertanda negeri ini banyak menghasilkan film bagus.

iklan harian Bintang Betawi edisi 4 Desember 1900 berbunyi begini, “Besok hari Rebo 5 Desember 1900 Pertoenjoekan Besar yang Pertama di dalam satoe roemah di Tanah Abang, Kebondjae (menage) moelai poekoel Toedjoe malem. Harga tempat klas satoe f2, klas doewa f1, klas tiga f0,5.” Hari itu, 5 Desember 1900, pertama kali film diperkenalkan pada orang Indonesia (waktu itu namanya Hindia Belanda) -- hanya selang 5 tahun setelah film pertama kali diperkenalkan ke khalayak umum. Film pertama yang hadir di Indonesia itu berupa film dokumenter perjalanan Ratu Belanda di kota Den Haag. Pertunjukan pertama itu konon kurang sukses. Sehingga, pada 1 Januari 1901, harga karcis didiskon 75 persen buat menarik minat orang menonton. Perkembangannya kemudian amat dinamis. Dalam 5 tahun pertama, bioskop-bioskop di masa itu sanggup memutar dua film setiap malamnya.

Baca Selengkapnya...

..........................................................................................................................................................................