INGIN JADI PENULIS SKENARIO, MULAILAH MENULIS
Oleh : Fahri Asiza
Pengantar Judul
Ketika membaca judul itu, pasti pertanyaan pertama adalah : ya iyalah… pasti menulis. Tapi gimana menulisnya ? Emangnya gampang? Hal ini juga pernah terjadi ketika saya memakai judul yang sama ketika berbicara soal dunia tulis menulis (cerpen, novel). Tapi kalau memang ingin menjadi penulis skenario, ya tulislah skenario itu.
Pengantar Makalah
Menulis skenario merupakan sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Layaknya profesi yang lain, menulis skenario juga dituntut memiliki keahlian. Selain itu tentu saja kedisplinan, kemauan dan kesempatan. Tapi buat saya, tetap dan lagi-lagi, dalam hal apa pun, kemauan adalah kata kunci yang paling utama. Karena tanpa kemauan, keahlian, kedisiplinan dan kesempatan yang didapatkan, pasti akan menjadi sia-sia.
Saya jadi teringat pada almarhum bapak saya yang pernah berkata, “Tidak ada profesi apa pun yang bisa membuat kamu kaya, tapi kamulah yang berbuat melalui profesi itu untuk menjadi kaya.”
Itu artinya, khususnya buat saya, kemauanlah yang paling utama—dalam segala bidang (dengan tujuan apa pun – tentang tujuan ini, masing-masing dari kita silakan menyikapinya sendiri). Karena dari kemauan, akan muncul kedisplinan, dari kedisplinan akan menjadi keahlian, dan bila sudah memiliki keahlian, maka Insya Allah, kesempatan itu pun ada.
Lalu yang paling sering kali terdengar, kesempatan itu susah sekali datangnya, dan kalau pun datang, dia tidak pernah dua kali datang. Jadi ketika kesempatan itu datang, langsung “disergap”. Benar, hal itu sangat benar. Tetapi bagaimana dengan pernyataan ini : “kesempatan itu tidak akan pernah datang dan tidak datang dua kali bila kita menunggu, tapi dia akan datang berkali-kali bila kita mengejarnya.”
Pointnya : tetap KEMAUAN.
Isi Materi
Sekarang mari kita masuk pada materi pembicaraan kita yang tentunya semua ini disajikan untuk para pemula yang ingin belajar menulis skenario. Bagi yang sudah “ahli” atau “terbiasa”, jangan segan-segan untuk memberikan ilmunya di sini.
Begitu banyaknya buku panduan untuk menulis skenario, yang merupakan sebuah bentuk bacaan renyah dan bergizi. Sangat menyenangkan membacanya. Buku-buku semacam itu bisa menjadi amunisi dalam benak kita—paling tidak—kelak akan membangkitkan alam bawah sadar kita.
Lalu ada yang bilang, “kok setelah saya membaca buku-buku semacam itu tetap tidak bisa menulis skenario”. Pertanyaannya, sudah mencobakah ? Kalau pun sudah, sudah berkali-kalikah ? Kalaupun sudah berkali-kali, patah semangatkah ? Kalau tidak patah semangat, terus mencoba lagikah ? Pertanyaan ini akan menjadi sangat panjang, yang intinya tetap : MENULISLAH.
Pada dasarnya, membuat skenario tidak jauh berbeda dengan menulis cerpen, novelet maupun novel. Sama-sama memiliki sebuah bahan dasar, yaitu : Ide atau gagasan atau bolehlah kita katakan “premis”. Ide atau gagasan sebuah cerita menjadi sebuah dasar atau jiwa dari cerita itu sendiri. Yang membedakan antara skenario dan bentuk tulisan lainnya, hanyalah dari struktur dan tetek bengeknya saja.
Sebuah cerita yang bagus, tanpa premis yang kuat akan terasa hambar. Premis dalam sebuah skenario biasanya lebih difokuskan pada tokoh utama. Premis kadang dianggap pula sebagai sebuah KONSEP, konsep sentral atau ide cerita dalam penulisan skenario.
Sebagai contoh misalnya :
“Tentang Sisi yang pergi bersama teman-temannya ke sebuah pulau, lalu di pulau itu dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menakutkan, yang membuat Sisi dan teman-temannya merasa diteror, dan ternyata diketahui, itu adalah bapak kandungnya yang telah lama pergi”.
Premisnya biasanya diarahkan dalam konflik. Dalam konflik contoh di atas, Sisi berusaha untuk menghindari bahkan mungkin (kita buat saja) yakin kalau (misalnya) pencurian atau pembunuhan yang terjadi dilakukan oleh si laki-laki menakutkan itu. Di sisi lain dalam penyelidikannya dia dikejutkan oleh satu kenyataan kalau laki-laki itu adalah bapak kandungnya. Lalu misalnya lagi : (begitu banyak bisa kita buat)
Nah, dari contoh itu, premis atau ide cerita sederhana itu mengarah dalam diri tokoh utama.
Dari sinilah skenario mulai berproses dengan bagan yang biasa kita kenal :
BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO.
Premis mengarah menjadi Basic Idea (BI), yang merupakan gagasan lebih lanjut dari premis terhadap skenario yang akan kita buat. Dalam BI ini, belum ada gambaran tentang cerita, tokoh, bahkan adegan demi adegan yang akan kita buat. BI saya anggap perlu, karena ini diperlukan untuk menjaga arah cerita, agar cerita tetap berada di jalannya.
Contoh BI yang kita angkat dari premis di atas :
“Kegelisahan seorang remaja yang ingin tahu siapa bapak kandungnya dan rasa kecewanya terhadap ibunya yang menutupi soal itu”.
Nah, dari sini kita sudah bisa membayangkan arah skenario yang akan kita buat. Tapi kita belum memiliki acuan yang nyata, bahkan cerita secara garis besarnya pun belum kita punya.
Berangkat dari BI, kita mengarah pada Basic Story (BS). Di dalam BS inilah kita mencoba membuat arahan cerita yang sedikit lebih jelas. Terutama tentang tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh-tokoh lainnya yang diperlukan. Juga kemana arah cerita yang akan kita buat.
Contoh BS :
“Karena tidak mendapatkan kejelasan siapa bapak kandungnya, Sisi kecewa terhadap ibunya. Dia lalu mengajak teman-temannya untuk berlibur ke sebuah pulau yang setuju setelah mengetahui apa yang dialami Sisi. Ada yang pro dan kontra pada Sisi akan sikapnya pada ibunya. Di pulau itu, Sisi dan teman-temannya mengalami peristwa-peristwa aneh, dengan terjadi pencurian bahkan pembunuhan. Mereka saling curiga. Tak sengaja bertemu dengan seorang lelaki yang mereka anggap sebagai pelakunya yang kemudian diketahui itu adalah bapak kandungnya Sisi”. (… seterusnya bisa diisi masing-masing)
Nah, secara sederhana BS sudah kita dapatkan. Kita bisa mendapatkan arahan cerita yang lebih lengkap dari sebelumnya.
Setelah BS kita lalui, kita mulai membuat sinopsis. Berbeda dengan sinopsis cerpen atau buku, sinopsis skenario harus dibuat jauh lebih lengkap. Dalam sinopsis skenario, urutan cerita sudah mulai terbentuk, meski belum final. Fungsinya, bila kita hendak mempresentasikan, kita sudah punya gambaran utuh dari cerita itu.
Biasanya dalam sinopsis diutamakan menceritakan :
Tokoh utama dan tokoh pembantu – peristiwa dan waktu kejadian – main story (cerita utama) dan side story (cerita pendukung) – motivasi tokoh – hambatan-hambatan yang dialami tokoh utama – jalan keluar dari setiap masalah dan hambatan serta apa yang dilakukan para tokoh – ending atau penutup dari cerita.
Itulah maksud saya perbedaannya dengan sinopsis sebuah cerpen atau pun novel.
Lalu sekarang kita masuk pada treatment.
Treatment (banyak juga yang menyebutnya scene plot) adalah sebuah arah atau sketsa yang lebih jelas untuk menuju ke sebuah skenario. Di sini susunan cerita sudah terbentuk secara nyata, dimulai dari awal cerita sampai akhir, pergerakan tokoh, kejadian demi kejadian dikemukakan secara jelas. Sehingga dramatik cerita nampak nyata dan tidak kabur.
Dalam menulis treatment, dialog sama sekali belum dibuat, karena treatment adalah arahan scene by scene yang menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutan dari scene by scene menuju ending.
Treatment diperlukan, karena selain kita sudah menangkap dan menilai daya tarik cerita secara utuh (juga memudahkan untuk mengoreksinya sebelum membuat skenari), dalam presentasi pun kita dengan mudah menceritakan apa yang ingin kita buat.
Barangkali mudahnya seperti ini. Kita harus pahami dulu tentang segala macam tetek bengek teknis penulisan skenario.
Tentang setting :
Biasanya ditulis EXT (exterior) atau INT (Interior) yang menandakan di mana kejadian yang akan kita tuliskan itu terjadi. Lalu ada tempat yang akan tuliskan. Hingga jadinya misalnya :
• 01. EXT – RUANG KELAS
01 menunjukkan itu berada pada scene ke berapa. Seterusnya 01, 02, 03, …
Ext itu menunjukkan berada di luar dalam hal ini, di luar kelas. Bila ingin menunjukkan di dalam dituliskan : Int.
Tentang Waktu :
Ini diperlukan untuk mengingatkan, kapan kejadian itu terjadi. Hingga jadinya :
• 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI
Ada juga yang menambahkan tentang hari di belakangnya, ini untuk mengetahui pada hari keberapa kejadian itu terjadi. Jadi ditambahkan :
• 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI (h-1)
H-1 itu menunjukkan hari pertama. Berikutnya H-1, H-2, H-3, …
Tentang Pemain :
Ada juga skenario yang memerlukan nama pemainnya dituliskan, dengan maksud agar yang emmbaca segera tahu siapa yang bermain dari scene by scene, hingga ketika membuat breakdown (biasanya dilakukan oleh bagian yang memproduksi skenario), tidak kesulitan lagi untuk mengetahui siapa pemainnya. Tapi tidak semua yang menerapkan gaya seperti itu. Hingga jadinya :
• 01. EXT – RUANG KELAS – PAGI
Pemain : Sisi, Indra, Wahyu
Hal teknis lainnya adalah seputar tetek bengek soal skenario. Misalnya CUT-TO, INTERCUT-TO, CONT’D-TO, INSERT, VOICE OVER dan lainnya yang dengan mudah bisa kita pelajari. Untuk teknis yang ini, silakan membaca buku-buku panduan skenario yang sudah ada.
Yang tetap ingin saya tekankan dalam diskusi kita ini, adalah sisi mudah dan sederhana tanpa diribetkan oleh masalah-masalah teknis. Jadi pointnya tetap :
BASIC IDEA – BASIC STORY – SINOPSIS – TREATMENT (SCENE PLOT) – SKENARIO.
Nah, kalau semua ini sudah kita kuasai, mari, mulailah menulis SKENARIO…
Caranya gimana, mulaikan menuliskan dialog dari treatment atau scene plot yang kita buat. Yang perlu diingat, skenario bisa melompat ke mana saja, baik itu dari segi setting maupun waktu.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam,
Fahri Asiza










